Selasa, 31 Maret 2009

Backlink Gratis Auto Generate

Haii....waduh...lama juga ya saya nggak "ngopas" lagi, kwkwkwkwkwa...
nih ada informasi lagi buat rekan-rekan blogger. Dan kali ini sesuai dengan judulnya "Backlink Gratis Auto Generate" yang saya peroleh dari narakrisna.com pas lagi browshing dan saya pribadi merekomendasikan kepada rekan-rekan blogger karena selain lumayan nambah backlink, seperti biasa "penyakit" kebanyakan para blogger selalu nyari yang namanya "Gratisan" dan ini memang GRATIS!,,terutama yang masih berstatus "newbie" seperti saya.. ;)
Oke, nggak perlu lama-lama lagi deh y, (capek juga ternyata...hikz..hikz...)Langsung ke "TKP" deh...

Bagi yang pengen backlink gratisan, ini ada list yang lumayan buat nambah backlink. Ganti aja belakangnya (bob14remudax.blogspot.com) dengan nama domain kamu. Sumbernya dimana lagi kalo bukan JIS Portal Webmaster Forum ;)

1. http://www.urltrends.com/viewtrend.php?url=bob14remudax.blogspot.com
2. http://www.aboutus.org/bob14remudax.blogspot.com
3. http://www.iwebtool.com/pagerank_checker?domain=bob14remudax.blogspot.com
4. http://www.sitetiki.com/bob14remudax.blogspot.com
5. http://www.websiteoutlook.com/www.bob14remudax.blogspot.com
6. http://www.statbrain.com/www.bob14remudax.blogspot.com
7. http://www.builtwith.com/?bob14remudax.blogspot.com
8. http://www.siteadvisor.cn/sites/bob14remudax.blogspot.com/summary/
9. http://whoisx.co.uk/bob14remudax.blogspot.com
10. http://uptime.netcraft.com/up/graph?site=www.bob14remudax.blogspot.com
11. http://seoarena.org/sh/www.bob14remudax.blogspot.com/
12. http://www.goldencalfnyc.com/index.php?keyword=http://bob14remudax.blogspot.com/&search=Search
13. http://tgsc.ru/redirect/http://bob14remudax.blogspot.com/.html
14. http://www.sitedossier.com/site/www.bob14remudax.blogspot.com
15. http://toolbar.netcraft.com/site_report?url=http://bob14remudax.blogspot.com
16. http://uptime.netcraft.com/up/graph?site=www.bob14remudax.blogspot.com
17. http://www.quantcast.com/www.bob14remudax.blogspot.com
18. http://www.protect-x.com/info/www.bob14remudax.blogspot.com
19. http://www.feedest.com/feedHost.cfm/host/www.bob14remudax.blogspot.com
20. http://www.websitegrader.com/badge/tabid/74762/Default.aspx
21. http://siteadvisor.se/sites/http://bob14remudax.blogspot.com/summary/
22. http://www.alexa.com/data/details/main/bob14remudax.blogspot.com
23. http://searchanalytics.compete.com/site_referrals/bob14remudax.blogspot.com
24. http://www.statsaholic.com/bob14remudax.blogspot.com
25. http://www.whois.ws/whois-com/ip-address/bob14remudax.blogspot.com/
26. http://hindi.avadhwebs.com/website/http://bob14remudax.blogspot.com
27. http://www.tagfetcher.com/url/http://bob14remudax.blogspot.com


Performance Tools For SEO

Dapet dari posting bro vps4free dari forum webmaster JISPortal, lumayan buat analisa web kita script apa aja yg bikin berat loadingnya.
1. http://site-perf.com/
2. http://www.html-world.de/tools/server.php
3. http://www.iwebtool.com/speed_test
4. http://www.websiteoptimization.com/services/analyze/
Silahkan menuju ke TKP masing-masing dan analisa webnya yah ;) Lumayan buat nambah tools SEO blog ini :)


Google Insights for Search

Dapet info dari bro chempez di JISPortal utk searching keyword. Langsung ke TKP aja deh untuk nyoba tool gratisan dari Google ini.
http://www.google.com/insights/search/
Tool ini bagus buat cari keyword yg lagi hot dan tentunya yg punya web kebanyakan trafik dari google bakal berguna banget. Silahkan dicoba dan optimasi keywords yang lagi nge-trend :)

Read More..

Sabtu, 14 Maret 2009

Akhirnya Datang Juga…



Akhirnya Datang Juga… Aku untuk Negeriku, Blog Competition 2009 yang diprakarsai oleh bugiakso.com beberapa waktu lalu memang telah selesai, namun tidak buat saya. Bukan karena ingin komplain karena kalah dalam kompetisi tersebut (gila ajah…, masih newbie gini mo menang?, hikz…hikz… isi blog aja masih “acak-acakan”) kompetisi blog tersebut belum berakhir menurut saya semata-mata karena ada sesuatu yang saya tunggu, yah…apalagi kalo bukan merchandise-nya hehehe… . dan Alhamdulillah hari ini tanggal 14 Maret 2009 pagi pas asik nerima telpon dari teman, eh ada pak pos dateng… SURPRISES!!!! Ada gambar Bung Bugiakso di amplopnya, g sadar saya berteriak “Akhirnya Datang Juga….”, dan pa pos-nya bingung “celingukan”. Nah dalam posting saya kali ini saya hanya ingin berbagi kebahagian kepada sobat bloger, terutama yang jg telah mengikuti kompetisi tersebut.
Oia, berhubung saya bukan foto model jadinya fotonya juga pas-pasan gitu. Nih dia foto-foto “lebay” itu, tolong/mohon komentarnya y…. mo komentarin jelek asal jangan menjelekkan, boleh dihina asal jangan menghina….lanjut bro….

Kaos hitam kombinasi putih "Mantabbbb bro..."


Sepertinya pas buat dipake ngumpul malam minggu ma anak-anak "kongkow"


Tampak belakang "Banner Blog Competition" tambah lebih PeDe mbok...


Akhir kata, peace buat semua yang telah meluangkan waktunya untuk melihat foto ini, mohon diingat yang saya bagi hanya foto gambar kaos ajah, dan bukan foto saya..wkwkwkwkw..

Akhir kata, terimakasih bung Bugiakso atas kaos-nya dan kenang-kenangan yang sangat berharga dan bermanfaat..."Aku Untuk Negeriku"

Read More..

Selasa, 17 Februari 2009

Tukeran Link Yuk...

Silahkan memasang link anda disini, dan saya minta anda memasang link blog ini di blog anda

Jika saat saya berkunjung ke blog anda tidak saya temukan link ke blog saya ini di blog anda, maka dengan sangat terpaksa akan saya hapus link anda disini, oleh karena itu silahkan anda konfirmasikan dikomentar dimana (URL) link blog ini anda letakkan di blog anda, terima kasih dan salam blogger.

1. rijal fahri 2. ebenk789 3. Akenshi 4. cummank 5. Business Directory 6. vie_ three 7. Sebuah Blog 8. rayzahome 9. layanandata 10. Rosmana 11. lintas unik 12. dihan 13. DUDY TAN 14. Tommy Budiawan 15. ottoman 16. mie 17. suki 18. e- je 19. miss Athiyah 20. sue 21. Litt Le_ Pea Ch 22. danny hermawan 23. danny 24. citra- global 25. bundeg blog magazine 26. Komputer Tips Trick 27. buyax 28. malangupdate 29. me- inspired women 30. donadz 31. trick- tipsblog 32. COOL BLOG 33. Berry Devanda 34. Medical Physics 35. Tan Malaka 36. Internazionale Milan And Indonsian Culture 37. Moel's Blog - Free Backlink 38. :-: Noise Harmony 39. Ghustie Samosir 40. IHSAN 41. slurpz 42. BELAJAR GRATIS 43. ridwan safrani 44. opa 45. e RGe³² 46. ice 47. melati 48. majron 49. tovazone 50. us 51. Kafe Blog 52. holil 53. M. A 54. devit1104 55. iwan 56. aa' mil 57. Iklan Baris Gratis 58. babygenius 59. Rengzzone Hacker Site 60. keindahanku 61. BEAUTY AND HEALTHY TIPS 62. E- NOVEL BERKUALITAS 63. syaka 64. Sekolah Pramugari 65. rizaladha

Nb: Oia, sobat semua saya mohon maaf karena link sobat belum semua bisa saya "tanam" diblog saya ini dan seperti yang rekan lihat hanya baru sekitar belasan yang saya pasang link-nya dan sisanya hanya nama doank, tapi saya janji saya akan segera menyelesaikan "PR" ini setelah tugas saya di Dunia Nyata kelar y... ini diperparah setelah script autolink dari www.blenza.com minta upgrade member...fuih...kirain bener2 gratis...tis... ternyata "Ngawuur"... Tapi saya tetap bersyukur bisa gunain fasilitas ini ko', gini-gini juga sangat membantu kita untuk saling menjalin-link sesama bloger...
Oia, bagi sobat bloger yang pernah "nanam" link-nya disini...tenang coba cek disini y.. ato disini...




Read More..

Senin, 16 Februari 2009

Ayat-Ayat Kampanye

Di sebuah kampung yang bernama Gunung Kembar, terdapat seorang kyai yang cukup disegani. Kyai ini menjadi panutan dalam segala bidang oleh penduduk kampung. Bahkan untuk urusan politik, sang kyai mendapat tempat yang sangat strategis. Segala omongan kyai entah benar atau salah selalu menjadi acuan semua warga kampung. Tidak ada protes, tidak ada ruang diskusi.

Menjelang Pilkada, sang kyai menjadi tokoh paling dicari. Bukan sebagai calon pesakitan, bukan sebagai target operasi. Namun menjadi keharusan bagi semua kandidat untuk meminta restu dari sang kyai. Jangan heran apabila televisi, koran hingga blog menyajikan tulisan dan tentu foto para kandidat sedang berpose mesra dengan sang kyai.

Pilkada kali ini diikuti oleh 4 pasang calon, yaitu :




1. ASU - Artalita dan Sukat

2. ANCUK - Andi dan Cucuk

3. ADIL - Adi dan Kunyil

4. MELU - Memed dan Luki

Sang kyai pun telah memutuskan untuk memberi restu kepada pasangan ADIL. Entah mengapa sang kyai begitu suka dengan pasangan ini. Konon jumlah sumbangan pasangan ADIL jauh lebih besar dibandingkan pasangan lainnya. Bukan saja uang tunai, batu bata, semen dan pasir telah disumbangkan untuk sang kyai. Bukan hanya sumbangan biasa, namun sumbangan dengan banyak harapan. Termasuk do’a dan dukungan, mungkin juga fatwa.

Sang kyai ingin tetap bermain cantik. Dia tidak mau terang-terangan terlibat dalam urusan perpolitikan. Maka dia pun menolak menjadi jurkam. Kyai hanya mau silaturahmi, istighotsah, pengajian dan aneka istilah lainnya. Tentu beda dengan kampanye! Beda? Mungkin!

Dalam setiap acara, sang kyai selalu berpesan kepada umatnya untuk berlaku ADIL karena berlaku ADIL lebih dekat dengan takwa. Tak lupa sang kyai selalu mengutip ayat-ayat yang mendukung ucapannya. Ketika sang kyai berwasiat tentang ADIL, pasangan ADIL yang duduk disampingnya tersenyum puas. Tidak rugilah berbisnis dengan kyai ini.

Sang kyai juga membuka berbagai kitabnya untuk mencari ayat-ayat yang paling tepat dan pas untuk mempromosikan ADIL. Bahkan tidak jarang dia menjatuhkan fatwa HARAM untuk memilih pasangan lain. Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, maka janganlah memilih pemimpin yang berjenis kelamin perempuan. Lagi-lagi dengan lancarnya sang kyai mengutip ayat. Siapa lagi korbannya, kalau bukan pasangan ASU (Artalita dan Sukat).

Puncaknya pada malam sebelum hari pencoblosan. Sang kyai mengadakan pengajian akbar di kampungnya, kampung Gunung Kembar. Dengan semangat kyai berkata :

“BERLAKULAH ADIL KARENA ADIL ITU DEKAT DENGAN TAKWA”

Keesokan harinya, hasil penghitungan suara di Kampung Gunung Kembar sungguh mencengangkan. Dari total 1201 surat suara yang masuk, 1200 diantaranya tidak sah. Kesemua surat suara yang tidak sah ternyata dicoblos pada semua gambar pasangan calon. Warga Kampung Gunung Kembar pun bangga telah bisa berlaku adil dan telah dekat dengan takwa!


Sumber : slametwidodo

Read More..

Jumat, 13 Februari 2009

“Aku Untuk Negeriku” Aku Ingin Menjadi Petani Tulen

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab melihat istrinya mengenakan kalung emas pemberian dari istri Gubernur Romawai. Dengan wajah yang kurang senang Khalifah bertanya kepada istrinya siapa yang memberikan kalung emas tersebut, dan istrinya menjawab bahwa kalung emas yang dikenakannya adalah hadiah dari istri Gubernur Romawi saat berkunjung ke tanah arab (Medinah). Maka tatkala Khalifah pun menyahutnya “Jikalau demikian wahai istriku, maka engkau tidak berhak memakai kalung itu. Seandainya saja aku bukan khalifah, apakah engkau akan diberi hadiah kalung itu? Banyak wanita di Madinah ini, bahkan seorang pun tidak diberi hadiah olehnya. Maka tanggalkanlah kalung emas itu wahai istriku karena kalung itu adalah milik negara”. Dan dengan tersenyum istri Khalifah Umar bin Khattab menyerahkan Kalung itu ke Baitul Mal.

Adapun Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang merelakan isi peti emasnya untuk disumbangkan kepada Republik Indonesia yang tengah dilanda krisis.

Intisari dan pesan dari cerita atau riwayat tersebut adalah bahwa mereka ini adalah contoh pemimpin/pembesar yang hanya memandang tugas-tugas yang menjadi kewajibannya dan tidak memperdulikan hak-haknya sebagai pembesar. Bahwa semakin tinggi kedudukannya maka semakin berat pula tugas kewajibannya. Namun lebih banyak manusia yang menjadi lemah dihadapan kenikmatan dan kemudahan dikala dengan kedudukan tinggi tersebut mereka memandang semakin banyak pula hak-haknya, bahwa kedudukan memberikan sejumlah hak, sejumlah kemudahan, sejumlah kenikmatan yang dapat membuat mereka mudah untuk lupa diri “berenang” ditempat yang basah atau bila duduk di kursi yang empuk.

Manusia dihormati karena kesungguhannya dalam bekerja, apalagi jika sungguh-sungguh melaksanakan tugas kewajibannya tanpa memikirkan imbalan (pamrih). Dan barangkali manusia semacam ini sudah langka di bumi ini, jika pun ada mungkin hanya bisa kita temukan pada lembara-lembaran buku “lawas”.

“Lakukanlah kewajiban-kewajibanmu dan jangan memikirkan apakah orang akan menghargaimu.”

Dan jangan sebaliknya,

“Lupakanlah tugas-tugas dan kewajibanmu serta konsentrasikanlah jiwa ragamu kepada hak-hak, imbalan dan fasilitas-fasilitasmu.”

Terkadang hati dan diri ini malu jika aku menengok atau membaca sejarah tentang para petani kita di desa-desa negeri ini, mereka tidak pernah mengeluh atas apa yang mereka kerjakan sebagai petani. Dan mengapa aku tidak belajar dari mereka-mereka ini, setia pada sawah dan ladang mereka ditemani kerbau-kerbau, tidak mengeluh walaupun punggungnya terbakar matahari setiap hari hingga tiga sampai enam bulan mereka bekerja semacam itu. Dan kalau nasib mujur, mereka akan memanen hasil dari setiap tetesan keringatnya. Tetapi tidak jarang langit kurang “berbaik hati” dengan tidak menurunkan hujan, atau bahkan terlalu berlebihan hingga banjir menyapu sawah-sawah mereka, belum lagi hama wereng yang setiap saat dapat datang tanpa diduga, atau tikus-tikus yang akan berpesta pora ikut menuai tanpa menam benih. Seperti itulah para petani yang bekerja keras, namun tidak selalu diakhiri dengan imbalan.

Akan setabah itukah kita? Masih marahkah kita apabila bendaharawan dikantor terlambat membayar gaji kita sementara sebagian waktu kita habiskan untuk bermain kartu dikantor, nongkrong diwarung kopi atau sekedar beralasan menjemput anak sekolah, atau jalan-jalan ke mall atau swalayan. Dapatkah kita selugu dan setabah para petani itu untuk setia pada sawah dan ternaknya, sehabis panen yang gagal? Sebab hanya itulah yang mereka ketahui untuk tetap bertahan hidup, bahwa untuk makan nasi mereka harus bekerja untuk menghasilkan padi. Dan kesemua itu tidaklah dapat dinilai dengan uang.


Aku merasa bahwa negeri ini akan menjadi besar jika setiap warganya berjiwa petani. Bahwa padi baru ada kalau tanah diolah, diairi dan benih ditanam serta dirawat. Bahwa kekayaan, kenikmatan, kemudahan itu baru diperoleh kalau orang bekerja menjalankan tugas kewajibannya. Tidak ada panen tanpa menebar benih. Cukup aneh rasanya, jika banyak orang sering bercanda “makan berkeringat tapi kerja tidak berkeringat”, walaupun secara sadar itu memang nyata.

Kerja keras itu buka hanya milik para pejabat, sementara bawahannya boleh menganggur menunggu jam pulang, atau sebaliknya bahwa bawahan tak sempat makan siang sementara para bos sibuk menelepon pacar tersayang. Kerja keras harus dihayati bersama dan imbalan sesuai dengan takaran tugasnya. Para pemimpinnya harus pusing/pening kepala memikirkan jalan keluar agar tidak terjadi PHK, sementara para bawahannya pegal linu kaki tangannya.

Tak banyak yang dapat dilakukan bangsa ini ketika bencana dan krisis multidimensional menggerogoti pundi-pundi tanah air negeri kita ini, krisis moneter yang tak berkesudahan, krisis pemerintahan, Krisis “keBhineka Tunggal Ika-an” di beberapa daerah negeri ini, Tsunami di Aceh, Sumatra dan Jawa yang menelan banyak korban jiwa, Lumpur Lapindo yang banyak menenggelamkan daerah pemukiman dan menjadikan Sidoarjo bagai “kolam raksasa”, namun disinilah kita dapat membuktikan bahwa hanya dengan kerja keras seluruh pihaklah kita akan membebaskan negeri ini dari segala permasalahannya, berjiwalah seperti petani, walaupun kemarau, banjir, hama menimpa sawah mereka atau bahkan gagal panen petani tidak pernah berputus asa dan tetap bekerja keras untuk membangun sawahnya kembali dengan baik hingga benar-benar menuai hasil yang mereka tunggu dengan sabar.

“Bercocok tanamlah secara baik! Pohon yang kita tanam tidak pernah mau ditipu petaninya, karena petani tulen adalah petani yang berjiwa kejujuran.”

Aku mendambakan sebuah kapal negeri dimana seluruh awak dan penumpangnya berjiwa petani, saling percaya satu sama lain tanpa ada satupun yang merasa dikhianati. Dengan selalu mengutamakan kewajiban dari pada hak agar negeri dengan segera keluar dari segala permasalahannya. Memang, siapa menabur benih dan akan menuai hasilnya, segala yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya segala yang buruk kan menghasilkan yang buruk. Mulialah bila kita menabur benih dan memberikan panenannya kepada tetangga yang membutuhkan, dan celakalah bila kita tidak pernah menabur benih, namun paling rakus menuai.

Cukuplah negeri ini menjadi negeri pesakit, jangan pernah berharap akan apa yang akan negeri ini berikan kepada kita, namun lakukanlah dan berbuatlah apa yang menjadi hak dari negeri ini.

Semoga bermanfaat dan ada manfaat.

Read More..

Sabtu, 07 Februari 2009

Sharing Contoh Surat Suara Pemilu 2009


Dear All rekan-rekan dari segala Partai di Indonesia...
( Baik Partainya, Calegnya, Tim Suksesnya, maupun semua masyarakat luas yang berkepentingan untuk melakukan Sosialisasi Pemilu 2009 ).
Berikut ini saya sharing contoh Surat Suara Pemilu 2009 yang cukup baik untuk sosialisasi bagi masyarakat pendukung anda.

Contoh Surat suara ini bisa anda modifikasi sendiri... jika ada yang kurang jelas, silahkan kontak langsung dengan Om Imam by phone disini atau email ke : progtel2004@yahoo.com.

Berikut ini link untuk download Contoh Surat suara tersebut (silahkan dipilih salah satu link downloadnya):

1. Contoh Surat Suara Pemilu 2009 Download1 Download2

2. Master Surat Suara Pemilu 2009 Blank Download1 Download2

3. Contoh Surat Suara Versi KPU Download1 Download2

Terima Kasih untuk Om Moh. Imam Sobari yang telah memberikan informasi yang sangat-sangat dibutuhkan masyarakat luas dan khususnya bagi Parpol, Caleg serta praktisi yang berkepentingan dalam rangka sosialisasi Surat Suara Pemilu Tahun 2009.

Read More..

Rabu, 04 Februari 2009

Pemilu dan Politisi Busuk

Genderang pertarungan merebut hati rakyat menyongsong Pemilu 2009 sudah ditabuh. Bahkan, setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pada 8 Juli 2008 hingga 2 April 2009 sebagai masa kampanye, pertarungan itu sudah sangat sengit.

KPU sepertinya ingin menyaksikan Pemilu 2009 benar-benar dimenangkan Parpol pilihan rakyat. Maka, Parpol diberi waktu sembulan (9) bulan, untuk berkampanye mensosialisasikan program partainya kepada rakyat.

Atas dasar itu, semua Parpol memainkan strategi masing-masing. Jurus-jurus pamungkas pun dikeluarkan, janji-janji muluk pun sudah ditabur. Gambar dan lambang partai sudah dipasang dimana-mana.

Menghadapi itu, rakyat sebetulnya cemas, was-was dan ketakutan. Betapa tidak, sejumlah politisi busuk muncul kembali. Kelompok oportunis, preman pasar, pecandu Narkoba, bajingan tengik, koruptor dan perampas hak rakyat, ikut menjadi Caleg.

Malah, setelah Mahkamah Kontitusi (MK) mengeluarkan ketetapan Pemilu 2009 memakai system suara terbanyak, nama-nama beken itu paling gencar menebar pesona dan paling gencar berjuang untuk duduk di gedung dewan.

Rakyat trauma, karena politisi busuk lihai memanfaatkan situasi. Berpura-pura dekat dengan rakyat, ketika menjelang Pemilu. Figur yang selama ini dikenal sebagai perampas hak rakyat, kini berubah seperti pembela rakyat. Mereka berubah seolah menjadi sosok paling dermawan, paling solider dan paling dekat dengan rakyat.

Politisi busuk itu, kini rajin bagi sembako, sunat massal dan bagi-bagi santunan bagi kaum duafa. Kegiatan politisi busuk itu diekspos di media massa secara besar-besaran, walau yang diberikan sang politisi busuk hanya sekedar beras sekilo dan kain selembar.


TIDAK TERKECOH

Untungnya rakyat kita sudah cerdas. Gerakan untuk menolak politisi busuk pun sudah muncul. Sejumlah organisasi nonpemerintah bergerak cepat mengawal rakyat, agar tidak memilih politisi busuk pada Pemilu 2009.

Menurut kita, gerakan anti politisi busuk adalah bertujuan untuk memperbaiki keterwakilan rakyat di parlemen. Memang, perjuangan untuk melahirkan demokrasi tak boleh dibajak politisi busuk.

Dengan gerakan anti politisi busuk yang sudah muncul di sejumlah daerah, diharapkan mampu mempengaruhi rakyat untuk memilih figure yang tepat. Artinya, rakyat jangan sampai memilih wakil yang salah.

Kita bersyukur, rakyat sudah tidak mau terkecoh. Rakyat sudah tahu, bahwa politisi busuk tidak bisa diharap untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Rakyat kita, kini menginginkan politisi muda yang enerjik dan bersih dari kepentingan masa lalu. Yakni figur-figur muda yang memahami masalah rakyat, belum dicemari praktek korupsi dan memang asli anak rakyat.

Rakyat sudah tidak butuh politisi busuk, politisi tua yang sudah payah berdiri dan sudah pikun. Rakyat butuh yang muda, cerdas dan sehat. ***

Sumber : www.kabarindonesia.com

Read More..

ZIONISME: Sebuah Obsesi Bangsa Unggul dan Kejahatan Perang

Dentuman martir dan letupan peluru bertaburan di udara: melumat bumi Palestina. Wajah tak berdosa berderai tangis. Sipil menjerit. Ratusan dan ribuan jasad terdiam kaku. Langit Palestina kelabu, mencekam jiwa-jiwa yang teraniaya...” --------(GUGUN, Langit Palestina) SERDADU Israel seperti tidak pernah ridha (baca:puas) dengan ketenangan bangsa Palestina. Tak peduli kecaman dunia. Persetan resolusi United Nations (PBB). Bagi pasukan Israel membumihanguskan sipil Palestina merupakan bagian ”perang suci” yang harus terus dilakukan. Israel seperti tidak ingin memberikan ruang nafas untuk bangsa Palestina. Berbagai alasan menjajah Palestina sangat mudah untuk dianalisa siapapun. Dan kita pun tahu gempuran Israel, seperti dilansir banyak media massa di nasional dan dunia, untuk menghabisi Hamas hanyalah akal-akalan Isreal yang ingin menguasai keseluruhan wilayah Palestina.

Siapa sebenarnya Isreal? Mengapa bangsa yang mayoritas beragama Yahudi ini kerap mempertunjukan perang dan kerusakan? Dan apa yang diinginkan mereka terhadap wilayah Palestina dan wilayah-wilayah Timur Tengah lainnya? Siapa pun yang pernah membaca dan mengkaji sejarah bangsa Israel akan lebih tahu sepak terjang bangsa tersebut. Mayoritas mereka sebenarnya merupakan bangsa Yahudi. Dan kata Yahudi sendiri berasal dari nama salah seorang anak Nabi Yaqub yakni, Yehuda. Dalam Bibel pasal 35 disebutkan, anak Nabi Yaqub berjumlah 12 orang. Dan diantaranya adalah Yehuda. Sedangkan mengenai sejarah bangsa Israel sendiri, menurut Kitab Perjanjian Lama, Bangsa Israel, Bab Kejadian, Pasal 32: Pergumulan Yaqub dengan Alloh, diceritakan pada Ayat 27: Bertanyalah orang kepadanya,” Siapa namamu?” Yaqub menjawab, ”Namaku Yaqub”. Kemudian pada Ayat 28 orang itu berkata (kepada Yaqub),” Nama kamu tidak akan disebut lagi Yaqub, tetapi Isroil”. Jadi bila ditafsirkan disini, Israil itu sendiri merupakan gelar atau panggilan Nabi Yaqub. Sedangkan Israil itu secara harfiah memiliki arti ”perjalanan malam”. Dan dalam catatan sejarah, Nabi Yaqub yang merupakan putra dari Nabi Ishaq keturunan Nabi Ibrahim, pernah melakukan perjalanan yang melelahkan pada malam hari. Dan perjalanan malam Nabi Yaqub bersama anak-anaknya itu kemudian, dia mendapat julukan Israil.

Terlepas dari itu semua, bangsa Yahudi, seperti disebutkan dalam banyak catatan sejarah, adalah entitas yang terobsesi oleh kitab sucinya yang menyatakan, bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan yang diciptakan untuk menguasai dunia. Bagi mereka, bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki latar sejarah keturunan dari Yaqub-Ishaq-Ibrahim, bukanlah umat suci dan mulia. Obsesi menjadi bangsa pilihan: mulia dan suci itu yang barangkali mendorong keangkuhan orang-orang Yahudi. Dan memang tidak dapat dipungkiri, keyakinan ”mendalam” mereka menegaskan sebagai bangsa termuka tidak lepas dari ”referensi suci” yang dibaca dan doktrin yang diajarkan para pemuka agama mereka, yang menyebutkan bahwa Tuhan akan menurunkan raja-raja di muka bumi ini dari keturunan Ibrahim. Sedangkan keturunan Ibrahim yakni Ismael tidak mereka akui. Dalam protokol Zionisme — sebuah agenda konspirasi kejahatan terhadap manusia — dipaparkan: Manusia terbagi atas dua bagian yakni, Yahudi dan Non-Yahudi atau Joyeem dan Umami.

Dalam protokol kaum Zionis itu disebutkan, jiwa-jiwa Yahudi diciptakan dari jiwa Tuhan dan hanya merekalah sebagai bangsa yang diciptakan Tuhan paling suci dan murni. Sementara itu, penciptaan Umami (Non-Yahudi) berasal dari Syaitan dan diciptakan Tuhan untuk menjadi budak-budak Joyeem (http://agam.rosyidi.com/sejarah-bangsa-israel/). Merasa diciptakan sebagai bangsa ”papan atas” dan mulia tersebut itulah yang bisa jadi membuat bangsa Yahudi menjadi congkak. Bagi mereka dunia ini diciptakan Tuhan hanya untuk bangsa Israel. Dan mereka merasa paling pantas untuk menguasai dan menghuninya. Sedangkan bangsa diluar sejarah keturunan mereka harus ditaklukan. Serangan dan kekejaman serdadu Israel terhadap Palestina adalah potret nyata, keangkuhan bangsa yang mengaku keturunan ”anak-anak” Tuhan yang suci dan mulia serta merasa paling berhak menguasai dunia, ternyata menebarkan perang dan kerusakan terhadap bangsa lain.

Israel: Negara Tanpa Wilayah

Bila ditelusuri dalam sejarah, berdirinya negara Israel sendiri tidak terlepas dari cita-cita Theodore Herzl, The Founding Father of Zionism, dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Yahudi) dan diimpikannya sejak tahun 1896. Keinginan bangsa Yahudi untuk memiliki negara sendiri merupakan bagian taktik Zionisme untuk mendapatkan pengakuan dunia. Umat yang mengklaim ”bangsa suci” ini memang terkenal memiliki jaringan yang kuat. Karena itu, tidak mengherankan, dalam hal lobi dan strategi politik internasional, orang-orang Yahudi juga terkenal pandai. Dan mungkin kepiawaian mereka itulah, kaum Zionis akhirnya berhasil menyatakan pendirian negara Israel, pada 14 Mei 1948. Negara telah berdiri. Tetapi bangsa Israel tidak memiliki wilayah kekuasaan. Bagaimana bisa sebuah negara berdiri tanpa wilayah. Itulah kepiawaian Zionisme. Meski tidak punya wilayah otoritas, ”bangsa kancil” ini dapat menguasai dan menempati beberapa bagian wilayah Timur Tengah, diantaranya yang tampak jelas adalah pencaplokan sebagian wilayah negara Palestina.

Bukan rahasia. Serdadu Zionisme melakukan gempuran kebeberapa negara Timur Tengah, tidak hanya Pelestina, tetapi sebelumnya juga pernah terjadi konflik Israel-Arab 1948 dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, tidak terlepas dari ”keyakinan” mereka sebagai ras paling unggul. Termasuk keinginan Zionis untuk menguasai negara-negara Timur Tengah. Kaum Zionis dibeberapa negara Eropa hingga Amerika merupakan jaringan kuat, yang memang terkenal memainkan peran diberbagai lini terpenting dunia internasional. Tanpa harus dibeberkan dan merasa heran, sebenarnya kita tahu, misalnya, pilihan abstein Amerika pada Resolusi PBB, 8 Januari 2009, beberapa waktu lalu, terkait penghentian serangan membabi-buta Israel terhadap warga Palestina, tidak terlepas dari aktor intelektual Zionisme-Amerika.

Obsesi Menguasai Timur Tengah

Gerakan Zionisme sejak awal diploklamirkan tokohnya Theodore Herzl dan Chaim Weizmann tahun 1882, merupakan gerakan yang bermaksud menguasai dunia dan mengembalikan umat dunia ke Zion, bukit yang diyakini sebagai tempat Tuhan, dengan segala cara. Dan lagi-lagi, ini juga tidak terlepas dari obsesi kaum Yahudi sebagai ras paling unggul dan mulia di dunia. Selain mengklaim sebagai bangsa yang diciptakan Tuhan paling suci diantara bangsa-bangsa lain. Israel juga berambisi ingin menguasai bangsa-bangsa dunia. Keinginan besar mereka menjadi negara superior di muka bumi ini tidak terlepas dari catatan Kitab Suci Bani Israil, Bab Kejadian, Pasal 15: Perjanjian Alloh dengan Abrom (Ibrahim), dalam Ayat 18 yang menerangkan: ”Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abrom serta berfirman: ”Kepada keturunanmulah kuberikan negeri ini mulai sungai Mesir sampai ke sungai besar itu, Sungai Efrat”.

Dalam Perjanjian Lama disebutkan 10 negeri yang diantaranya: Tanah orang Keni, Tanah orang kenas, Tanah orang Kadmun, Negeri orang Hed, Negeri orang Feris, Negeri Refain, Negeri orang Amori, Negeri orang Kan’an, Negeri orang Deregasi, Negeri orang Nyeyus. Tanah-tanah tersebut itu, sekarang bernama Mesir, Irak, Yordania, Lybia, termasuk Arab Saudi. Gerakan terselubung Israel ingin menguasai wilayah negara-negara Timur Tengah tersebut memang sudah dirancang. Bagi kaum Yahudi, negara-negara sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama itu merupakan ”Negera Perjanjian Tuhan”. Jadi tidak mengherankan, mengapa kaum Zionis sangat berambisi menguasai negara-negara Timur Tengah, termasuk Palestina. Untuk mengambilalih ”Negara Perjanjian Tuhan” tersebut, kaum Zionis bergerak dalam jaringannya. Gerakan terorganisir ”Bintang Segi Enam” ini sangat rapi menempatkan posisi para aktor intelektualnya. Yahudi dengan Zionismenya memang terkenal piawai ”memproduksi” kuasa dan pengaruh opini publik lewat media massa. Dan itu bahkan sangat mungkin untuk dilakukan oleh Yahudi.

Nando Baskara, mencatat, dalam bukunya: ”Mafia” Bisnis Yahudi, ada sejumlah media elektronik dan cetak yang kepemilikannya dikuasai kaum Yahudi. Sebut saja diantaranya, Cable News Network (CNN), American Broadcasting Companies (ABC), News Corporatin, The New York Times, The Mirror, Time, Newsweek, Time Educational, The Wall Strett Journl, The Times (inggris), dan sejumlah media massa Barat lainnya yang masih “diotaki” Yahudi. Kesuksesan kaum Zionis menguasai sejumlah media massa ternama dan bahkan menciptakan citra negatif terhadap Islam, termasuk memicu serangan ke Palestina, tidak terlepas dari siasat politik Zionis yang dirancang Theodore Herzl. Kaum Zionis sendiri sangat pandai membaca gerakan politik untuk menguasai dunia internasional, yakni dengan melakukan lobi, diplomasi, dan menempatkan media massa sebagai ”senjata” propaganda. Herzl sendiri, sebagai ”ulama besar” kaum Zionis, sebenarnya adalah seorang wartawan yang dikenal cerdik melakukan lobi terhadap pemimpin-pemimpin dunia Barat dan para jurnalis. Dan karena itu, tidak mengherankan jika gerakan Zionisme terbilang sukses melebarkan sayap-sayap perjuangannya. PBB dan ”Penjahat Perang”
Mengapa harus bangsa Palestina yang terus menderita oleh gempuran Israel? Dan mengapa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terkesan lamban menyikapi keberutalan pasukan ”Bintang Segi Enam” tersebut? Apapun alasan yang dibuat Israel menyerang bangsa Palestina, mayoritas masyarakat dunia saya yakin sepakat tidak dan bahkan sangat tidak mendukung. Betapa tidak, warga sipil yang harus menjadi tumbal keangkuhan serdadu Israel sudah sangat memperihatinkan. Demikian halnya, jumlah korban berjatuhan akibat perperangan tersebut tidaklah sedikit. Dan apa sebanarnya yang dikerjakan PBB yang berpusat di benua Amerika menyikapi keguncangan dunia akibat perang tersebut? Bukan tidak mungkin, serangan Israel yang membabibuta dan membombardil bangunan sipil, kantor-kantor, sekolah, tempat-tempat ibadah, hingga menembaki para jurnalis yang sedang bekerja akan memperkokoh akar konflik perang di wilayah Timur Tengah. Sikap PBB yang terkesan membiarkan serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina, termasuk serangan Amerika ke Irak, beberapa waktu lalu, telah menegaskan kemandulan lembaga perdamaian dunia tersebut menyikapi perang yang terjadi di wilayah Timur Tengah. Sebenarnya PBB tidak lebih merupakan lembaga boneka ”negara-negara” penjahat perang yang boleh dikatakan tidak perlu lagi keberadannya.

Masyarakat dunia memang pantas protes atas segala kekerasan dan kebiadaban yang diakibatkan perang. Negara-negara dunia harus lebih tegas menyikapi serangan serdadu Israel dan sekutunya sebagai kejahatan kemanusiaan dan perusak peradaban dunia. Apapun bentuknya, perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebaliknya, perang hanya akan melahirkan bangsa dunia terjajah menjadi mentalitas bangsa yang rentan tidak percaya diri dan rapuh. Bagaimana akan ada perdamaian dunia, sementara negara-negara yang mempropagandakan demokratisasi, humanisme, anti terorisme, ternyata membiarkan dan bahkan mempraktikan tindakan-tindakan teroris dan kerusakan di muka bumi. Inilah sebuah ironi nyata dan sekaligus kejahatan kemanusiaan yang bisa kita saksikan.

*) Komunitas Merah Putih Network dan Indonesian Citizen Journalist (www.guguncenter.blogspot.com)
Sumber : www.kabarindonesia.com

Read More..

Menjadi Pemilih Rasional

Layaknya jamur di musim penghujan, kontestasi popularitas sejumlah politisi kian mewabah. Tak ayal lagi, media massa mulai dari pesawat televisi, internet, koran, majalah, buletin hingga radio menjadi pilihan. Para politikus riak-riak mulai mempopulerkan jati diri dan partainya. Berlagak layaknya pahlawan, mereka berkoar-koar membela hak rakyat. Bahkan tak sedikit mereka yang tiba-tiba bermuka sendu-sedan, meratapi nasib kaum papa.


Tak hanya itu, di kampung-kampung pun para politisi tebar pesona. Mereka giat berkampanye, sedikit dibumbui turnamen-turnamen olah raga dan pasar murah. Menu menarik lainnya, adalah jajanan artis ibu kota yang disuguhkan cuma-cuma. Para artis seolah menjadi bumbu penyedap rasa. Mereka direkrut menjadi juru kampaye dan tim sukses sejumlah partai.

Rupanya, logika kampanye para politikus kita, dari masa ke masa tetaplah sama. Tetap kekeh (bertahan) pada etika lama, yakni suka membual. Janji manis berbalutkan kain kedustaan pun jadi pilihan. Para calon pemimpin, elit politik, dan tim sukses dengan asyiknya memproduksi ribuan janji dan harapan baru. Tak ayal lagi, kampaye layaknya pepesan kosong dan lenong bocah. Untungnya, konstituen di Indonesia, tetap lugu dan mudah percaya. Diperparah pula mereka mulai terjangkit penyakit lupa.


Politik Etis

Itulah sikap yang cukup bijak, dapat diperagakan para elit politik saat ini. Di tengah himpitan perekonomian dan menguatnya kompleksitas persoalan hidup masyarakat, sehingga perhelatan Caleg dan Pilpres 2009 hendaknya dijadikan wahana berkhidmat demi kesejahteraan umat. Bukan malah menjadi ajang tipu-daya, adu kekuatan, bermufakat bersama untuk memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan rakyat.

Politik etis ala Van Deventer (1901), penebus dosa atas bumi pertiwi agaknya tepat diperagakan kembali. Berlangsungnya eksploitasi model baru, yang diperagakan para pemimpin pribumi dari rezim ke rezim, hendaknya diakhiri dengan santun. Sudah saatnya, elit partai tak hanya memikirkan kemenangan partai an-sich, melainkan bergeser pada paradigma "demi" kemenangan rakyat (konstituen). Jelasnya, kala keadilan ekonomi, keadilan sosial, kemakmuran dan kesajahteraan rakyat menjadi tujuan. Meminjam bahasa agama, terciptanya tatanan kehidupan baldatun tayyibatun warabbun ghofuur. Itulah, barometer kemenangan rakyat yang sesungguhnya. Persoalannya, apakah mungkin hal itu bisa diwujudkan?

Jawabnya, tentu saja mungkin. Asalkan, ada kemauan dan keberanian rakyat. Bukankah alam demokrasi, segalanya berada di tangan rakyat? Untuk itu, dibutuhkan rekayasa sosial. Praktisnya, rakyat harus berani memaksa elit politik agar patuh pada konstituen, sehingga setidaknya ada tiga hal untuk merealisasikan semua itu.

Pertama, menjadi pemilih yang cerdas. Ukuran kecerdasan pemilih, tentu bukan menginduk pada klasifikasi pendidikan. Melainkan bertumpu pada sejauh mana pemilih memahami visi-misi, tujuan, dan rencana strategik (masterplan) calon pemimpin.

Tipologi pemilih semacam ini, biasa disebut dengan istilah pemilih visioner. Dengan kata lain, pemilih yang mengetahui secara jelas akan kematangan calon pasangan tertentu. Minimal mengetahui rencana apa yang akan dilaksanakan, jika nantinya ia terpilih. Konsekuensi logisnya, pembandingan konsep kepemimpinanlah menjadi kata kunci. Sehingga semakin tinggi keberpihakan calon pemimpin terhadap rakyat, maka semakin tinggi pula kepercayaan rakyat kepadanya. Sebaliknya, semakin rendah keberpihakan calon pemimpin terhadap kepentingan rakyat, dipastikan ia akan ditinggalkan konstituennya.

Kedua, membuat kontrak sosial. Seiring perkembangan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara menuju era kematangan, maka hendaknya pemilih mulai selektif dalam menjatuhkan pilihannya. Sudah saatnya, pemilih rasional melakukan kontrak sosial. Kontrak tersebut, diajukan kepada calon pemimpin dan caleg yang akan dipilihnya. Persoalannya, jika kontrak sosial tersebut terlaksana. Apakah ia mempunyai payung hukum yang kuat? Bisakah digunakan konstituen untuk meng-impeachment sang pemimpin, ketika ia mengingkari janji? Dalam konteks ini, Mahkamah Konstitusi (MK) atau lembaga terkait diharapkan dapat mengambil inisiatif untuk membuat mekanisme payung hukum kontrak sosial tersebut, sehingga pelbagai kontrak sosial yang dibuat rakyat, tidak begitu saja menguap tanpa makna.

Ketiga, pemilih tak mudah lupa. Wabah penyakit pelupa yang menular di kalangan pemilih, terutama golongan pemilih kelas menengah ke bawah harus segera diobati. Pasalnya, jika dibiarkan akan semakin menyuburkan benih-benih kedustaan para penguasa terpilih. Di sisi yang sama, komitmen pemilih untuk tak mudah melupakan pengingkaran janji rezim terpilih, bermanfaat sebagai senjata terakhir dari buah ketidak-percayaan pemilih terhadap figur atau mesin politik partai yang mengusungnya.

Terakhir, bagi pemilih di akar rumput (grass root) jangan mudah terperdaya menyikapi fenomena politik tebar pesona para elit partai saat ini. Tetaplah teguh memegang sikap selektif dan rasional. Bukankah itu, merupakan salah-satu sikap terbaik yang bisa kita lakukan? Semoga elit politik kita, mempunyai kemauan mengubah tabiat buruknya, untuk tidak mendustai rakyat.

Sumber : www.kabarindonesia.com

Read More..

Anonimitas Partai Politik


Pemilu bukan sekedar model partisipasi politik masyarakat, melainkan juga merupakan ajang ?balas dendam? rakyat terhadap institusi politik. Parpol adalah institusi politik yang akan paling merasakan dampak ketidakpuasan tersebut. Faktanya, sejak Pemilu 2004, ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja parpol makin menguat. Wujud kongkritnya adalah tingginya angka golput.

Data JPPR 2008 menyebutkan kalau 13 pemilu gubernur dari 26 Pilkada Provinsi sepanjang 2005-2008 ?dimenangi? oleh golput. Jajak pendapat Kompas pada 13-14 Agustus 2008 juga mencatat 3 dari 4 responden (76,5%) menyatakan ketidakpuasan terhadap kinerja Parpol.

Sebelumnya survey LSI juga menempatkan parpol di level terendah sebagai wadah menyuarakan suara rakyat. Posisi teratas ditempati media massa (31 %), ormas (24 %), baru kemudian birokrat dan parpol dengan nilai 11 %. Realitas kemudian memaksa parpol untuk berbenah. Ironisnya, pembenahan tersebut ternyata tidak menyentuh aras substansial bahkan malah membuat parpol kehilangan jatidirinya.

Anominitas Parpol.

Apa yang membedakan Parpol dengan warung kelontong? Jawabnya adalah barang dagangannya. Warung kelontong menawarkan produk-produk yang laku di pasaran. Bila popularitas produk tersebut turun, maka pemilik warung kelontong dengan tanpa dosa bisa memilih untuk beralih produk.

Parpol adalah institusi, penjaja, ideologi. Menurut Ali Shariati (1982), ideologi adalah keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas sosial atau suatu bangsa atau suatu ras. Dalam konteks ini, aktor di balik revolusi Iran tersebut menyebut 3 tahapan ideologi, yaitu: 1)cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi dan manusia; 2) cara khusus kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atau ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita; 3) mencakup usulan-usulan, metode-metode, berbagai pendekatan dan keinginan yang kita manfaatkan untuk mengubah status quo yang kita tidak puas.

Intinya, ideologi adalah identitas. Dan aras idealis tentu tak bisa menerima istilah identitas ganda dari seseorang atau sekelompok orang. Dua ekor macan tidak mungkin hidup dalam satu hutan.

Sebagai sebuah identitas, maka ideologi memaksakan suatu keberpihakan. Karena itu, fenomena loncatan-loncatan politikus apalagi di antara parpol-parpol yang berbeda ideologinya merupakan konkrititas sikap oportunis.

Realitas kini menggambarkan kalau parpol tak jauh beda dengan warung kelontong. Kian banyak parpol yang mengusung kandidat caleg maupun eksekutif yang tidak seideologi. Koalisi antar parpol beda ideologi juga acap terjadi. Ironisnya, fenomena ini nyaris merata di hanpir tiap daerah.

Pilkada kota Padang Oktober 2008 menegaskan 3 pasang kandidat yang diusung koalisi Parpol, dengan komposisi: PPP-PDIP, Partai Demokrat-PBB, dan PAN-PKS. Ironisnya pada Pilkada Padang Panjang dan Pariaman kemarin, PAN adalah seteru PKS, sementara pada Pilgub Sumbar 2005, PDIP berkawan dengan PBB, dan PAN berkonco dengan beberapa parpol kecil. Pada Pilkada DKI Jakarta dan kota Payakumbuh, PKS dikeroyok?ramai-ramai, padahal pada Pilpres 2004, PKS sudah pasang badan untuk capres PAN (putaran 1) dan capres Partai Demokrat (putaran 2).

Koalisi antar parpol memang tuntutan politik untuk membentuk sebuah pemerintahan yang kuat. Selain itu, koalisi antar parpol juga ditujukan untuk dapat lolos persyaratan pengajuan kandidat pimpinan eksekutif sebagaimana yang termaktub dalam UU Pemerintah Daerah dan UU Pilpres. Tetapi, alih-alih berdasarkan ideologis, fenomena sebaran koalisi parpol di negeri ini lebih menggambarkan pesekutuan pragmatis berlandaskan probabilitas menang-kalah. Identitas ideologis ditelikung oleh hasrat kekuasaan.

Koalisi yang bersifat pragmatis tidak akan pernah bertahan lama. Koalisi tersebut rentan terhadap godaan kekuasaan. Elemen-elemen pengusungnya akan mudah lari bila situasi dan kondisi menawarkan kue kekuasaan yang lebih besar. Hak angket BBM adalah contoh kongkrit. Bagaimana bisa parpol-parpol pengusung pemerintah mengelontorkan niatan tersebut, sementara menteri-menterinya sudah menyatakan persetujuannya atas kebijakan tersebut.

Desakan rakyat memang wajib diikuti, tetapi realisasinya tetap dengan menggunakan etika politik. Perlu ada tahapan-tahapan politik yang dilalui sebelum memutuskan membatalkan sebuah konsensus. Karena bila tidak begitu, maka koalisi parpol tidak akan jauh beda dengan persekutuan preman pasar yang saling sikut atau cari selamat sendiri-sendiri ketika polisi razia.


Anoreksi Politik

Anoreksi politik di kalangan akar rumpun merupakan rel yang disandingkan dengan bantalan anonimitas parpol. Anoreksi politik adalah fenomena di mana masyarakat politik cenderung melakukan diet berlebihan dengan cara menolak berpartisipasi dalam sistem politik bahkan memuntahkan dan menolaknya, disebabkan ketakutan akan citra negatif dari politik itu sendiri.

Tindakan-tindakan pragmatis parpol adalah loncatan proyektil yang membuat masyarakat kebingungan. Pencitraan kalau politik adalah arena mesum, kotor dan amoral makin menjangkiti masyarakat. Tak ada suara, janji maupun tindakan politikus yang dinilai bisa dijadikan patokan. Ketidakpuasan menguat bahkan berujung pada sinisme dan apatis pada politik formal.

Golput kemudian menjadi saluran pengekspresian hasrat ketidakpuasaan tersebut. Bila ketidakpuasan pada parpol diwujudkan dengan tindakan tidak memilih kembali parpol tersebut, maka tindakan tersebut adalah sesuatu yang positif. Maknanya masyarakat sudah melek politik dan mau belajar dari kesalahan.

Tetapi bila ketidakpuasan tersebut diwujudkan dalam bentuk anoreksi politik, maka pemerintahan yang dihasilkan dalam pemilu itu menjadi tidak memiliki legalitas. Ide kontrak sosial JJ Rousseau menegaskan kalau syarat syah negara adalah keberadaan perjanjian antara pemerintah dengan yang diperintah, atau negara dengan rakyat. Pemerintahan tanpa adanya mandat dari rakyat adalah pemerintahan omong kosong. Konsepsi tegaknya negara menjadi sesuatu yang tak mutlak untuk dipertahankan. Karena pemilih pada akhirnya memiliki logika sendiri.

Keberpihakan politik diyakini tidak akan berdampak positif, bahkan mungkin negatif, terhadap kesejahteraan masyarakat. Siapa pun elit yang diamanahi kekuasaan pada struktur pemerintahan tidak akan membawa perubahan signifikan. Pada kondisi tersebut maka pemikiran Andree Gidde bahwa negara hanya merupakan satu titik dalam pencapaian civil society sebagai bentuk final dari hubungan antar individu dalam masyarakat politik dapat terwujud. Intelektual sosialis tersebut meramalkan kalau gagalnya sebuah negara bukan sekedar karena kuatnya nativisme dan separatisme, tetapi karena memang dihancurkan sendiri oleh elitnya yang haus kekuasaan.

Anoreksi politik pada kalangan akar rumpun merupakan pekerjaan besar bagi parpol, bahkan segenap elemen pengusung terbentuknya masyarakat politik yang demokratis, berdaulat, bermartabat dan mandiri. Karena, meminjam pernyataan Goenawan Muhammad, politik mati ketika tak ada lagi terasa sebuah ruang, sebuah negeri, sebuah rantau, tempat para warga merasa bisa bergabung dan bersaing untuk membuat ruang itu tidak sekedar nyaman, tapi juga punya makna. Demokratisasi Indonesia tampaknya masih membutuhkan waktu panjang untuk terwujud.

Sumber : www.kabarindonesia.com

Read More..