Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab melihat istrinya mengenakan kalung emas pemberian dari istri Gubernur Romawai. Dengan wajah yang kurang senang Khalifah bertanya kepada istrinya siapa yang memberikan kalung emas tersebut, dan istrinya menjawab bahwa kalung emas yang dikenakannya adalah hadiah dari istri Gubernur Romawi saat berkunjung ke tanah arab (Medinah). Maka tatkala Khalifah pun menyahutnya “Jikalau demikian wahai istriku, maka engkau tidak berhak memakai kalung itu. Seandainya saja aku bukan khalifah, apakah engkau akan diberi hadiah kalung itu? Banyak wanita di Madinah ini, bahkan seorang pun tidak diberi hadiah olehnya. Maka tanggalkanlah kalung emas itu wahai istriku karena kalung itu adalah milik negara”. Dan dengan tersenyum istri Khalifah Umar bin Khattab menyerahkan Kalung itu ke Baitul Mal.
Adapun Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang merelakan isi peti emasnya untuk disumbangkan kepada Republik
Intisari dan pesan dari cerita atau riwayat tersebut adalah bahwa mereka ini adalah contoh pemimpin/pembesar yang hanya memandang tugas-tugas yang menjadi kewajibannya dan tidak memperdulikan hak-haknya sebagai pembesar. Bahwa semakin tinggi kedudukannya maka semakin berat pula tugas kewajibannya. Namun lebih banyak manusia yang menjadi lemah dihadapan kenikmatan dan kemudahan dikala dengan kedudukan tinggi tersebut mereka memandang semakin banyak pula hak-haknya, bahwa kedudukan memberikan sejumlah hak, sejumlah kemudahan, sejumlah kenikmatan yang dapat membuat mereka mudah untuk lupa diri “berenang” ditempat yang basah atau bila duduk di kursi yang empuk.
Manusia dihormati karena kesungguhannya dalam bekerja, apalagi jika sungguh-sungguh melaksanakan tugas kewajibannya tanpa memikirkan imbalan (pamrih). Dan barangkali manusia semacam ini sudah langka di bumi ini, jika pun ada mungkin hanya bisa kita temukan pada lembara-lembaran buku “lawas”.
“Lakukanlah kewajiban-kewajibanmu dan jangan memikirkan apakah orang akan menghargaimu.”
Dan jangan sebaliknya,
“Lupakanlah tugas-tugas dan kewajibanmu serta konsentrasikanlah jiwa ragamu kepada hak-hak, imbalan dan fasilitas-fasilitasmu.”
Terkadang hati dan diri ini malu jika aku menengok atau membaca sejarah tentang para petani kita di desa-desa negeri ini, mereka tidak pernah mengeluh atas apa yang mereka kerjakan sebagai petani. Dan mengapa aku tidak belajar dari mereka-mereka ini, setia pada sawah dan ladang mereka ditemani kerbau-kerbau, tidak mengeluh walaupun punggungnya terbakar matahari setiap hari hingga tiga sampai enam bulan mereka bekerja semacam itu. Dan kalau nasib mujur, mereka akan memanen hasil dari setiap tetesan keringatnya. Tetapi tidak jarang langit kurang “berbaik hati” dengan tidak menurunkan hujan, atau bahkan terlalu berlebihan hingga banjir menyapu sawah-sawah mereka, belum lagi hama wereng yang setiap saat dapat datang tanpa diduga, atau tikus-tikus yang akan berpesta pora ikut menuai tanpa menam benih. Seperti itulah para petani yang bekerja keras, namun tidak selalu diakhiri dengan imbalan.
Akan setabah itukah kita? Masih marahkah kita apabila bendaharawan dikantor terlambat membayar gaji kita sementara sebagian waktu kita habiskan untuk bermain kartu dikantor, nongkrong diwarung kopi atau sekedar beralasan menjemput anak sekolah, atau jalan-jalan ke mall atau swalayan. Dapatkah kita selugu dan setabah para petani itu untuk setia pada sawah dan ternaknya, sehabis panen yang gagal? Sebab hanya itulah yang mereka ketahui untuk tetap bertahan hidup, bahwa untuk makan nasi mereka harus bekerja untuk menghasilkan padi. Dan kesemua itu tidaklah dapat dinilai dengan uang.
Aku merasa bahwa negeri ini akan menjadi besar jika setiap warganya berjiwa petani. Bahwa padi baru ada kalau tanah diolah, diairi dan benih ditanam serta dirawat. Bahwa kekayaan, kenikmatan, kemudahan itu baru diperoleh kalau orang bekerja menjalankan tugas kewajibannya. Tidak ada panen tanpa menebar benih. Cukup aneh rasanya, jika banyak orang sering bercanda “makan berkeringat tapi kerja tidak berkeringat”, walaupun secara sadar itu memang nyata.
Kerja keras itu buka hanya milik para pejabat, sementara bawahannya boleh menganggur menunggu jam pulang, atau sebaliknya bahwa bawahan tak sempat makan siang sementara para bos sibuk menelepon pacar tersayang. Kerja keras harus dihayati bersama dan imbalan sesuai dengan takaran tugasnya.
Tak banyak yang dapat dilakukan bangsa ini ketika bencana dan krisis multidimensional menggerogoti pundi-pundi tanah air negeri kita ini, krisis moneter yang tak berkesudahan, krisis pemerintahan, Krisis “keBhineka Tunggal Ika-an” di beberapa daerah negeri ini, Tsunami di Aceh, Sumatra dan Jawa yang menelan banyak korban jiwa, Lumpur Lapindo yang banyak menenggelamkan daerah pemukiman dan menjadikan Sidoarjo bagai “kolam raksasa”, namun disinilah kita dapat membuktikan bahwa hanya dengan kerja keras seluruh pihaklah kita akan membebaskan negeri ini dari segala permasalahannya, berjiwalah seperti petani, walaupun kemarau, banjir, hama menimpa sawah mereka atau bahkan gagal panen petani tidak pernah berputus asa dan tetap bekerja keras untuk membangun sawahnya kembali dengan baik hingga benar-benar menuai hasil yang mereka tunggu dengan sabar.
“Bercocok tanamlah secara baik! Pohon yang kita tanam tidak pernah mau ditipu petaninya, karena petani tulen adalah petani yang berjiwa kejujuran.”
Aku mendambakan sebuah kapal negeri dimana seluruh awak dan penumpangnya berjiwa petani, saling percaya satu sama lain tanpa ada satupun yang merasa dikhianati. Dengan selalu mengutamakan kewajiban dari pada hak agar negeri dengan segera keluar dari segala permasalahannya. Memang, siapa menabur benih dan akan menuai hasilnya, segala yang baik akan menghasilkan yang baik, sebaliknya segala yang buruk
Cukuplah negeri ini menjadi negeri pesakit, jangan pernah berharap akan apa yang akan negeri ini berikan kepada kita, namun lakukanlah dan berbuatlah apa yang menjadi hak dari negeri ini.
Semoga bermanfaat dan ada manfaat.












semangat untuk damaikan wong cilik, ha...
BalasHapusSesuatu hal yang harus dileladani para pemimpin kita....!!
BalasHapus@ Andrie Callista mengatakan...
BalasHapussemangat untuk damaikan wong cilik, ha...
"Amin, banyak pelajaran yang bisa jadi
manfaat.
@ brigadista mengatakan...
Sesuatu hal yang harus dileladani para
pemimpin kita....!!
"Kita banyak memiliki pemimpin yang baik,
namun tidak semua pemimpin kita yang memiliki
akhlaq yang baik, contoh dibeberapa daerah
ternyata banyak aparat/pejabat pemerintah
yang tidak bisa membaca Kitab Suci-nya,
hingga seorang Bupati mensyaratkan hal itu
untuk dapat layak dipromosikan/naik jabatan,
bagaimana bisa berakhlaq baik, mengaji saja
tidak bisa."
salam kenal jg, makasih dah berkunjung ke blog ku
BalasHapusmau ikutan kasih komentar ya, biasanya orang kalo sudah bergelimang harta suka lupa diri. dan bagi yg pernah mengalami hidup susah. pasti akan takut kembali mengalami penderitaannya
@ linda
BalasHapussalam kenal jg, makasih dah berkunjung ke blog ku
mau ikutan kasih komentar ya, biasanya orang kalo sudah bergelimang harta suka lupa diri. dan bagi yg pernah mengalami hidup susah. pasti akan takut kembali mengalami penderitaannya
"sudah menjadi sifat alamiah manusia bahwa manuasia tidak pernah merasa puas dengan segala apa yang telah mereka miliki, namun yang paling berbahaya adalah apabila manusia menjadi lupa untuk bersyukur pada apa yag telah dia miliki dan tidak merasa ikhlas terhadap rezeki yang telah ada".
td pas browsing, eh ketemu artikel ini, dibaca trus dikomentarin deh... ;)
BalasHapusbener tuh, sepertinya bangsa kita perlu belajar lagi untuk bener2 dapat memegang amanah. klo g salah, khalifah Umar pernah memikul beras sendiri hanya gara2 ada rakyatnya yang tidak dapat berbuka puasa karena tidak punya makanan untk dmakan.
Shonde_tarakan
Something that may surprise you about Hogan scarpe is that women were not the only ones rocking them. Men that identified with the fast paced, pervasive disco scene were also known to be spotted wearing Hogan scarpe donna , however, usually without the five inch high heels. If you weren't alive in the 1970's you should know that Hogan uomo was most certainly a time of sex, drugs and rock and roll. Those who had escaped the era of the casual hippie were looking for a shoe with a little more edge to it, and Hogan scarpe uomo were their match made in heaven.
BalasHapusGood, hope read more about it!
BalasHapus-----------------------------------------------
http://www.hogan.ws